Hwang Soo-Ah
Park Jimin
Kim Jongin
Ha Sungwoon
Lee Taemin
Bella Kim
Son Naeun
"Aku suka kamu Hwang Soo-Ah"
Tiba-tiba hujan turun. Aku masih kaget dengan pernyataan Jimin yang sangat tiba-tiba seperti hujan yang juga turun secara tiba-tiba. Tanpa adanya tanda-tanda. Aku melihat Jimin dengan mata terbuka lebar. Jimin hanya tersenyum sambil melihatku. Tangan Jimin meraih pipiku dan mengambil sebutir nasi yang menempel dipipiku.
"Hahah. Seperti anak kecil saja makannya" kata Jimin. Dan aku pun sadar kembali namun masih tak percaya dan terkejut. Aku memalingkan pandanganku dan memakan ramyeon yang sudah kucampur dengan samkimbab didalamnya dengan terburu-buru. Aku tersedak. Jimin memberikanku sebotol air mineral dan menepuk punggungku.
"Pelan-pelan dong makannya" kata Jimin sambil terus menepuk punggungku dengan halus.
Saat itu aku memutuskan untuk pulang.
"Aku sudah selesai makan. Aku pulang dulu" kataku.
Aku beranjak pergi tanpa menghiraukan hujan, tubuhku sudah basah dengan hujan, namun Jimin mengejarku dengan membawa payungnya.
"Soo-Ah ya!! Tunggu aku." Jimin mencoba mengejarku.
Jimin berhasil menyusulku dan menarik tanganku kemudian menyodorkan payungnya untuk menutupiku dari hujan.
"Pakai ini. Naeil Tto boja (besok kita ketemu lagi)" Jimin pergi meninggalkanku tanpa membawa payungnya. Ia kehujanan dan berlari hingga akhirnya ia tak terlihat lagi. Aku kembali ke kosanku. Aku bergegas mandi untuk menghindari dinginnya air hujan yang menyelimutiku sambil menyegarkan pikiranku kembali. Selesai ku mandi aku langsung merebahkan tubuhku sambil memikirkan pengakuan Jimin tadi hingga akhirnya aku terlelap.
***
Esokan harinya
Hari itu jimin tak terlihat di kelas maupun di kampus. Jam makan siang aku pergi untuk makan bersama Naeun.
"Soo-Ah ya, hari ini kita jadi kerja kelompok? Tapi bagaimana ini? Jimin tidak masuk kuliah. Kamu tau dia kenapa hari in gak masuk?" tanya Naeun.
Aku sedikit melamun namun masih bisa mendengar apa yang Naeun katakan.
"Hm? Molla (tidak tahu)" jawabku.
Handphone Naeun berdering.
"Eo? Jimin nih" seru Naeun dan menerima telepon dari Jimin.
"YA! Park Jimin! Neo Eodiya (kamu dimana)??!"
"Mwo(apa)? Mengapa kau sakitnya sekarang. Kan hari ini kita harus kerja kelompok. Tugasnya sebentar lagi dateline"
"Hmm.. Yasudah aku dan Soo-Ah saja yang mengerjakannya. Kau istirahat saja. Cepat sembuh biar bisa mengerjakan tugasmu lagi. Eo, arraseo. Keunno (aku tutup)" Naeun mengakhiri percakapannya dengan Jimin.
"Apa katanya?" tanyaku sedikit khawatir
"Dia sedang demam hari ini. Makanya gabisa datang kuliah dan kerja kelompok." jawab Naeun sambil sedikit kesal.
Aku langsung terpikir kejadian semalam. Apakah Jimin sakit akibat kehujanan semalam? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Akhirnya aku dan Naeun kerja kelompok berdua di kafe tempat ku bekerja.
Esok paginya entah mengapa aku ingin membuatkan sesuatu untuk Jimin. Sejak pagi aku sudah sibuk memasak bubur abalon untuk kuberikan ke Jimin. Aku masukkan bubur abalon itu ke termos dan aku pergi ke kampus dan bermaksud menemui Ha Sungwoon.
Setibanya dikelas aku melihat Jimin sudah masuk kuliah. Seperti biasa Jimin tertidur dikelas, wajah yang ia tenggelamkan di lengannya yang memangku kepalanya tergeletak di atas meja. Akhu memberanikan diri untuk menghampiri Jimin. Aku duduk disampingnya.
"J.....ji...jimin-ah" bisikku. Namun Jimin tak bergerak.
"Jimin. Park Jimin" bisikku lagi didekat telinga Jimin. Namun tetap tak bergerak
"Jimin-ah" kubisikkan lagi didekat telinganya dan sedikit menggerakkan tubuhnya. Hingga akhirnya Jimin menolehkan kepalanya kearahku dengan mata yang masih lelah dan bibirnya agak pucat. Jimin tersenyum saat melihatku.
"Oh. Soo-ah ya kau sudah datang. Apakah kau pulang dengan selamat waktu malam itu?" tanya Jimin dengan suara yang agak serak dan lemah.
"Eo. Kamu tidak apa-apa?" tanyaku ragu.
Jimin mengangguk kecil dan tersenyum dengan mata tertutup.
Aku memegang dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Masih panas.
"Ya, Jimin-ah kau benar tidak apa-apa? Tubuhmu masih panas." kataku memastikan.
"Soo-ah ya, bisakah kau antarkan aku ke ruang perawatan?" tanya Jimin dengan lemah.
"Eo. Arraseo. Kaja(ayo pergi)" kataku sambil merangkulkan tangan Jimin ke pundakku. Naeun yang melihatku mencoba membantuku.
"Soo-ah ya Jimin kenapa?" tanya Naeun.
"Naeun-a bantu aku." kataku
Aku dan Naeun mengantarkan Jimin ke ruang perawatan darurat di kampus.
Dua jam berlalu.
Aku menunggu Jimin hingga sadar kembali. Sementara Naeun kembali ke kelas. Aku terpaksa izin hari ini.
Jimin akhirnya bangun.
"Jimin-ah. Sudah bangun?" tanyaku. Aku segera memanggil perawat.
Setelah perawat selesai memeriksa Jimin dan mengatakan beberapa nasihat kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
"Jimin-ah kau tidak apa-apa ?" tanyaku khawatir.
"Emm. Tidak apa-apa" Jawab Jimin sambil tersenyum. Beberapa saat kecanggungan terasa. Kemudian...
"Ah. Kau sudah sarapan?" aku teringat bubur buatanku.
Jimin menggeleng.
Aku mengambil termos yang berisi bubur dan menuangkannya di tutup termosnya.
"Ini, aku bawakan bubur abalon untukmu. Aku memang berniat untuk menitipkan ini ke Sungwoon untukmu"
"Wah, untung hari ini kupaksakan untuk masuk kuliah agar bisa bertemu denganmu. Tapi ternyata kamu membawakan ku bubur. Hahah beruntungnya aku." kata Jimin masih dengan suara lemah namun sudah sedikit lebih jelas.
Aku memberikannya untuk ia makan sendiri.
"Soo-ah ya Mian(maaf) tapi tubuhku masih lemah sekali. Tanganku gemetar. Bisakah kamu menyuapiku?" tanya Jimin sambil menunjukkan tangannya yang sedikit bergetar.
Ya mau tak mau aku menyuapinya.
"Eotte (gimana)? Enak?" tanyaku.
Jimin mengangguk semangat dengan mata lebar dan berbinar.
"Waah. Aku tidak tahu, kalau ternyata kamu pandai memasak." puji Jimin dengan senyumannya.
*ddrrt..ddrtt
Handphone ku berbunyi. Dari manager cafe tempatku bekerja.
"Halo, ne siljangnim... Jimin-ah sebentar ya" aku pergi keluar ruangan untuk mengangkat telepon.
Hari itu aku meminta izin tidak masuk kerja. Entah apa yang merasuki tubuh dan pikiranku. Aku hanya ingin memastikan agar Jimin baik-baik saja. Aku khawatir.
"Soo-Ah ya.. Kau tidak ke cafe hari ini?" tanya Jimin.
"tidak. Aku libur hari ini" aku berbohong
"Soo-Ah ya bisakah kau mengantarkanku pulang? Aku tidak nyaman disini" pinta Jimin
"Aku minta izin dulu ke perawatnya ya" kataku lalu bergegas menemui perawat dan bertanya apa Jimin sudah bisa pulang.
"Ayo. Aku antarkan pulang. Mobilmu parkir dimana?" kataku sambil membantu Jimin bangun.
"Kita naik taksi saja. Biar mobilku dibawa Taemin nanti"
Aku memapah Jimin hingga keluar kampus dan masuk ke dalam taksi.
Kepala Jimin bersandar ke pundakku dan terlelap sepanjang jalan menuju rumahnya.
Setibanya di rumahnya.
"Istirahatlah. Aku akan mengambil minum untukmu" kataku sambil menyelimutinya. Dan ketika aku ingin ke dapur dengan botol minum ditanganku Jimin menarik tanganku hingga aku terjatuh duduk diatas pangkuannya.
"Kajima (jangan pergi)" Kata Jimin yang langsung memelukku.
"Aku hanya ingin mengambil minum" kataku
"Diamlah sebentar. 5 menit saja. Diamlah seperti ini 5 menit saja." sambil terus memelukku.
"Aku merindukanmu" kata Jimin pelan.
******
[To Be Continued]
*ddrrt..ddrtt
Handphone ku berbunyi. Dari manager cafe tempatku bekerja.
"Halo, ne siljangnim... Jimin-ah sebentar ya" aku pergi keluar ruangan untuk mengangkat telepon.
Hari itu aku meminta izin tidak masuk kerja. Entah apa yang merasuki tubuh dan pikiranku. Aku hanya ingin memastikan agar Jimin baik-baik saja. Aku khawatir.
"Soo-Ah ya.. Kau tidak ke cafe hari ini?" tanya Jimin.
"tidak. Aku libur hari ini" aku berbohong
"Soo-Ah ya bisakah kau mengantarkanku pulang? Aku tidak nyaman disini" pinta Jimin
"Aku minta izin dulu ke perawatnya ya" kataku lalu bergegas menemui perawat dan bertanya apa Jimin sudah bisa pulang.
"Ayo. Aku antarkan pulang. Mobilmu parkir dimana?" kataku sambil membantu Jimin bangun.
"Kita naik taksi saja. Biar mobilku dibawa Taemin nanti"
Aku memapah Jimin hingga keluar kampus dan masuk ke dalam taksi.
Kepala Jimin bersandar ke pundakku dan terlelap sepanjang jalan menuju rumahnya.
Setibanya di rumahnya.
"Istirahatlah. Aku akan mengambil minum untukmu" kataku sambil menyelimutinya. Dan ketika aku ingin ke dapur dengan botol minum ditanganku Jimin menarik tanganku hingga aku terjatuh duduk diatas pangkuannya.
"Kajima (jangan pergi)" Kata Jimin yang langsung memelukku.
"Aku hanya ingin mengambil minum" kataku
"Diamlah sebentar. 5 menit saja. Diamlah seperti ini 5 menit saja." sambil terus memelukku.
"Aku merindukanmu" kata Jimin pelan.
******
[To Be Continued]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar