Rabu, 07 Agustus 2019

Insomnia Ep.3

Cast :
Hwang Soo-Ah
Park Jimin
Kim Jongin
Ha Sungwoon
Lee Taemin
Bella Kim
Son Naeun



"Aku suka kamu Hwang Soo-Ah" 
Tiba-tiba hujan turun. Aku masih kaget dengan pernyataan Jimin yang sangat tiba-tiba seperti hujan yang juga turun secara tiba-tiba. Tanpa adanya tanda-tanda. Aku melihat Jimin dengan mata terbuka lebar. Jimin hanya tersenyum sambil melihatku. Tangan Jimin meraih pipiku dan mengambil sebutir nasi yang menempel dipipiku. 
"Hahah. Seperti anak kecil saja makannya" kata Jimin. Dan aku pun sadar kembali namun masih tak percaya dan terkejut. Aku memalingkan pandanganku dan memakan ramyeon yang sudah kucampur dengan samkimbab didalamnya dengan terburu-buru. Aku tersedak. Jimin memberikanku sebotol air mineral dan menepuk punggungku. 
"Pelan-pelan dong makannya" kata Jimin sambil terus menepuk punggungku dengan halus. 

Saat itu aku memutuskan untuk pulang. 
"Aku sudah selesai makan. Aku pulang dulu" kataku.
Aku beranjak pergi tanpa menghiraukan hujan, tubuhku sudah basah dengan hujan, namun Jimin mengejarku dengan membawa payungnya. 
"Soo-Ah ya!! Tunggu aku." Jimin mencoba mengejarku. 
Jimin berhasil menyusulku dan menarik tanganku kemudian menyodorkan payungnya untuk menutupiku dari hujan. 
"Pakai ini. Naeil Tto boja (besok kita ketemu lagi)" Jimin pergi meninggalkanku tanpa membawa payungnya. Ia kehujanan dan berlari hingga akhirnya ia tak terlihat lagi. Aku kembali ke kosanku. Aku bergegas mandi untuk menghindari dinginnya air hujan yang menyelimutiku sambil menyegarkan pikiranku kembali. Selesai ku mandi aku langsung merebahkan tubuhku sambil memikirkan pengakuan Jimin tadi hingga akhirnya aku terlelap. 

                                           ***                                              
Esokan harinya
Hari itu jimin tak terlihat di kelas maupun di kampus. Jam makan siang aku pergi untuk makan bersama Naeun. 
"Soo-Ah ya, hari ini kita jadi kerja kelompok? Tapi bagaimana ini? Jimin tidak masuk kuliah. Kamu tau dia kenapa hari in gak masuk?" tanya Naeun. 
Aku sedikit melamun namun masih bisa mendengar apa yang Naeun katakan. 
"Hm? Molla (tidak tahu)" jawabku. 
Handphone Naeun berdering.
"Eo? Jimin nih" seru Naeun dan menerima telepon dari Jimin. 
"YA! Park Jimin! Neo Eodiya (kamu dimana)??!"
"Mwo(apa)? Mengapa kau sakitnya sekarang. Kan hari ini kita harus kerja kelompok. Tugasnya sebentar lagi dateline"
"Hmm.. Yasudah aku dan Soo-Ah saja yang mengerjakannya. Kau istirahat saja. Cepat sembuh biar bisa mengerjakan tugasmu lagi. Eo, arraseo. Keunno (aku tutup)" Naeun mengakhiri percakapannya dengan Jimin. 
"Apa katanya?" tanyaku sedikit khawatir
"Dia sedang demam hari ini. Makanya gabisa datang kuliah dan kerja kelompok." jawab Naeun sambil sedikit kesal. 
Aku langsung terpikir kejadian semalam. Apakah Jimin sakit akibat kehujanan semalam? Aku bertanya-tanya dalam hati. 
Akhirnya aku dan Naeun kerja kelompok berdua di kafe tempat ku bekerja. 

Esok paginya entah mengapa aku ingin membuatkan sesuatu untuk Jimin. Sejak pagi aku sudah sibuk memasak bubur abalon untuk kuberikan ke Jimin. Aku masukkan bubur abalon itu ke termos dan aku pergi ke kampus dan bermaksud menemui Ha Sungwoon. 

Setibanya dikelas aku melihat Jimin sudah masuk kuliah. Seperti biasa Jimin tertidur dikelas, wajah yang ia tenggelamkan di lengannya yang memangku kepalanya tergeletak di atas meja. Akhu memberanikan diri untuk menghampiri Jimin. Aku duduk disampingnya. 

"J.....ji...jimin-ah" bisikku. Namun Jimin tak bergerak. 
"Jimin. Park Jimin" bisikku lagi didekat telinga Jimin. Namun tetap tak bergerak 
"Jimin-ah" kubisikkan lagi didekat telinganya dan sedikit menggerakkan tubuhnya. Hingga akhirnya Jimin menolehkan kepalanya kearahku dengan mata yang masih lelah dan bibirnya agak pucat. Jimin tersenyum saat melihatku.
"Oh. Soo-ah ya kau sudah datang. Apakah kau pulang dengan selamat waktu malam itu?" tanya Jimin dengan suara yang agak serak dan lemah. 
"Eo. Kamu tidak apa-apa?" tanyaku ragu. 
Jimin mengangguk kecil dan tersenyum dengan mata tertutup. 
Aku memegang dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Masih panas. 
"Ya, Jimin-ah kau benar tidak apa-apa? Tubuhmu masih panas." kataku memastikan.
"Soo-ah ya, bisakah kau antarkan aku ke ruang perawatan?" tanya Jimin dengan lemah. 
"Eo. Arraseo. Kaja(ayo pergi)" kataku sambil merangkulkan tangan Jimin ke pundakku. Naeun yang melihatku mencoba membantuku. 
"Soo-ah ya Jimin kenapa?" tanya Naeun. 
"Naeun-a bantu aku." kataku 
Aku dan Naeun mengantarkan Jimin ke ruang perawatan darurat di kampus. 

Dua jam berlalu. 
Aku menunggu Jimin hingga sadar kembali. Sementara Naeun kembali ke kelas. Aku terpaksa izin hari ini. 
Jimin akhirnya bangun. 
"Jimin-ah. Sudah bangun?" tanyaku. Aku segera memanggil perawat. 
Setelah perawat selesai memeriksa Jimin dan mengatakan beberapa nasihat kemudian pergi meninggalkan kami berdua. 
"Jimin-ah kau tidak apa-apa ?" tanyaku khawatir.
"Emm. Tidak apa-apa" Jawab Jimin sambil tersenyum. Beberapa saat kecanggungan terasa. Kemudian... 
"Ah. Kau sudah sarapan?" aku teringat bubur buatanku. 
Jimin menggeleng. 
Aku mengambil termos yang berisi bubur dan menuangkannya di tutup termosnya. 
"Ini, aku bawakan bubur abalon untukmu. Aku memang berniat untuk menitipkan ini ke Sungwoon untukmu"
"Wah, untung hari ini kupaksakan untuk masuk kuliah agar bisa bertemu denganmu. Tapi ternyata kamu membawakan ku bubur. Hahah beruntungnya aku." kata Jimin masih dengan suara lemah namun sudah sedikit lebih jelas. 
Aku memberikannya untuk ia makan sendiri. 
"Soo-ah ya Mian(maaf) tapi tubuhku masih lemah sekali. Tanganku gemetar. Bisakah kamu menyuapiku?" tanya Jimin sambil menunjukkan tangannya yang sedikit bergetar. 
Ya mau tak mau aku menyuapinya. 
"Eotte (gimana)? Enak?" tanyaku. 
Jimin mengangguk semangat dengan mata lebar dan berbinar. 
"Waah. Aku tidak tahu, kalau ternyata kamu pandai memasak." puji Jimin dengan senyumannya.
*ddrrt..ddrtt
Handphone ku berbunyi. Dari manager cafe tempatku bekerja. 
"Halo, ne siljangnim... Jimin-ah sebentar ya" aku pergi keluar ruangan untuk mengangkat telepon. 
Hari itu aku meminta izin tidak masuk kerja. Entah apa yang merasuki tubuh dan pikiranku. Aku hanya ingin memastikan agar Jimin baik-baik saja. Aku khawatir. 
"Soo-Ah ya.. Kau tidak ke cafe hari ini?" tanya Jimin. 
"tidak. Aku libur hari ini" aku berbohong
"Soo-Ah ya bisakah kau mengantarkanku pulang? Aku tidak nyaman disini" pinta Jimin
"Aku minta izin dulu ke perawatnya ya" kataku lalu bergegas menemui perawat dan bertanya apa Jimin sudah bisa pulang. 
"Ayo. Aku antarkan pulang. Mobilmu parkir dimana?" kataku sambil membantu Jimin bangun. 
"Kita naik taksi saja. Biar mobilku dibawa Taemin nanti"
Aku memapah Jimin hingga keluar kampus dan masuk ke dalam taksi. 
Kepala Jimin bersandar ke pundakku dan terlelap sepanjang jalan menuju rumahnya. 
Setibanya di rumahnya. 
"Istirahatlah. Aku akan mengambil minum untukmu" kataku sambil menyelimutinya. Dan ketika aku ingin ke dapur dengan botol minum ditanganku Jimin menarik tanganku hingga aku terjatuh duduk diatas pangkuannya. 
"Kajima (jangan pergi)" Kata Jimin yang langsung memelukku. 
"Aku hanya ingin mengambil minum" kataku 
"Diamlah sebentar. 5 menit saja. Diamlah seperti ini 5 menit saja." sambil terus memelukku. 
"Aku merindukanmu" kata Jimin pelan. 

                                   ******         
[To Be Continued]     

Kamis, 28 Februari 2019

Insomnia Ep. 2

Cast :
Hwang Soo-Ah
Park Jimin
Kim Jongin
Ha Sungwoon
Lee Taemin
Bella Kim
Son Naeun

Di beberapa mata kuliah aku dan Jimin sering bertemu. Ya, mungkin dia juga mengambil mata kuliah yang sama denganku secara kebetulan. Hingga suatu hari.....

"Jangan lupa tugas kelompoknya dua minggu lagi setiap kelompok harus presentasi. Kelompoknya kalian yang bentuk sendiri. Sekian kuliah hari ini" pak dosen meninggalkan kelas. 

Jimin menghampiri tempat dudukku.
"Soo-Ah ya, udah dapet kelompok?" tanya Jimin.
"(geleng kepala) Ajjik" jawabku
"Jjoah (bagus). Kita satu kelompok ya. Sisanya terserah kamu mau ajak siapa"
"Eung. Arraseo(baiklah)" jawabku sambil menganggukkan kepala sedikit tidak yakin.
"Pinjem hape dong sebentar" pinta Jimin.
Aku berikan handphoneku tanpa memikirkan apapun. 
Jimin mengotak atik handphone ku. Kemudian terdengan suaru nada dering dari handphond Jimin. 
"Yeogi (ini) [Jimin mengembalikan handphoneku]. Hubungi aku ya. Aku harus pergi sekarang. Mianhae (maaf)"
"Telfon aku ya. Kkuuuk~ (harus) anyeong" Jimin melambaikan tangan dan meninggalkan kelas. 

"Soo-Ah ya" suara cewek memanggilku dari bangku sebelahku. Aku menoleh.
"Aku ikut kelompok kamu dong. Boleh ya" kata Son Naeun. Gadis cantik berambut hitam panjang berwajah mungil dengan suara halus. Dia pintar dan cukup populer, tapi dia jarang bergaul sama sepertiku. Dia juga sedikit pemalu. Bedanya dia banyak yang deketin walaupun agak pendiam namun ramah. Kalo aku, hahh boro - boro ada yang deketin. Mereka dateng ke aku kalau ada perlu saja. 

"Eung. Kkeurae(oke)" jawabku tanpa pikir panjang. 
Kelompokku sudah penuh dengan 3 orang anggota. Aku, Jimin dan Naeun. Wow. Aku juga tak menyangka aku sekelompok dengan orang-orang yang populer di kampus. 

"Soo-Ah ya, rumah kamu dimana? Nanti kita kerja kelompok dimana? Oiya satu lagi anggotanya siapa?" tanya Naeun penasaran. Aku cukup kaget dengan sikap Naeun yang ternyata penuh dengan rasa penasaran yang terpancar dari tatapan matanya yang berbinar. 
"Hmm. Park Jimin" jawabku
"Oooh Jimin. Terus kapan kita mulai kerja kelompoknya?" tanya Naeun.
"Naeil ottae? (kalau besok gimana). Karena aku harus kerja hari ini dan Jimin tidak bisa hari ini jadi aku pikir besok bisa mulai kerja kelompok." jelasku.
"Kkeurae. Besok hubungi aku aja ya." Naeun setuju.

Aku cukup mengenal Naeun. Karna awal masuk kuliah aku sempat dekat dengannya hingga suatu saat aku dan Naeun terlalu sibuk dengan urusan masing-masing yang membuat jarak kita menjadi jauh. Dan setelah sekian lama Naeun akhirnya yang menghampiriku duluan. Aku senang. 

                                     ***       
Keesokannya. 

"Eo, wasseo(oh udah dateng)" sapa ku ke Jimin dari balik meja kasir ditempatku bekerja.
"Tunggu aja dulu Naeun juga belum dateng" pintaku ke Jimin untuk duduk menunggu. 
"Mau minum apa?" tidak lupa dengan pekerjaanku. 
"Caffe Latte?" tanyaku. Jimin menjawab dengan anggukan dan senyuman. Kemudian ia menuju tempat duduk. 

"Soo-Ah ya. Anyeong" Naeun tiba. 
"Eo. Naeun-a. Duduk situ Jimin udah dateng" sambil menunjuk ke arah tempat Jimin duduk.
"Mau minum apa?" tanyaku.
"Affogatto 1 red velvet cake 1" kata Naeun sambil mengulurkan credit cardnya. 
"Gausah. Aku yang traktir" kataku. 
"Eo? Jjinjja? Gomawo Soo-Ah ya" kata Naeun girang dan menuju kursi tempat Jimin duduk.

Jimin dan Naeun tampak sudah mengenal satu sama lain. Mereka langsung mengobrol setelah bertemu. 

Aku menghampiri mereka berdua dengan membawa nampan yang berisikan Caffe Latte untuk Jimin, Affogatto dan red velvet cake untuk Naeun dan Strawberry latte untukku.
"Oh iya ini aku lupa bayar tadi" Jimin menyerahkan credit cardnya. 
"Aniyo. Ttaesseo (udah gausah) Soo-Ah yang traktir kita hari ini" kata Naeun mencegah Jimin memberikan credit cardnya. Jimin bingung dan menatapku. Aku mengangguk. 
"Gomawo" kata Jimin dengan suaranya yang lembut dan tersenyum sambil menikmati caffe lattenya. 

Kita bertiga mulai kerja kelompok dengan serius. Aku juga terkejut. Ku kira Jimin akan bosan dengan hal yang berbau pelajaran. Namun termyata ia sangat serius dalam berdiskusi. Begitu juga Naeun. Hahah aku merasa kelompokku ada team Avengers. 

Beberapa jam telah berlalu dari sore hingga tak terasa hari sudah gelap. Matahari berganti menjadi bulan. Pukul 8 malam kita akhirnga bisa bersantai. Aku merasa sedikit bersalah. Karena kerja kelompoknya membutuhkan waktu yang lama karena aku juga sambil bekerja melayani pelanggan. Tapi mereka tidak apa-apa. 

Handphone Jimin berdering. Jimin mengangkat panggilan dari handphonenya. 
"Yeobseo?(halo). Oo. Wwae? (kenapa). Sekarang lagi di caffe deket kampus. Oo. Yaudah kesini aja. Oo~" Jimin mengakhiri pembicaraannya di telepon. 
"Siapa? Ada yang mau kesini?" tanya Naeun yang penasaran. 
"Iya. Liat aja nanti" jawab Jimin. 
Beberapa menit kemudian. Pintu caffe terbuka. Aku langsung berlari untuk menyambut namun belum aku sampai ke meja kasir aku melihat Taemin datang dengan topi, kaos hitam dilapisi jaket kulit dan jeans hitam dengan sepatu kets. 
"Oo. Soo-Ah ssi anyeong" sapa Taemin yang langsung menuju tempat duduk Jimin dan Naeun. 
Aku kembali lagi ke tempat dudukku. 
"Taemin-ssi mau minum apa?" tak lupa aku menawarkan daganganku. 
"Hmmm. Ice americanno 1" jawab Taemin. 
Aku kembali ke meja kasir dan membuatkan pesanan Taemin. 

Aku kembali menghampiri mereka dengan Ice Americanno pesanan Taemin. 
Naeun tidak seperti biasanya. Ia cenderung diam malu. Sedangkan Taemin dan Jimin berbicara dengan santai. 
"Naeun-a kenapa?" tanyaku berbisik ke Naeun. 
Pipi Naeun langsung berseri dan memerah. 
Naeun mengetikkan sesuatu di handphonenya dan menunjukkannya pada ku. 
"ada Taemin. Aku malu" isi pesan Naeun. Aku langsung mengerti. 
Jimin sudah mengenalkan Taemin ke Naeun sejak tadi. Naeun sepertinya menyukai Taemin. 

Akhirnya kami mengobrol bersama. Aku mencoba untuk menghilangkan rasa gugup Naeun dengan menjadi lebih aktif berbicara. Hahah tidak biasanya aku seperti ini. Tapi entah mengapa, aku nyaman dan senang berkumpul dengan mereka. Awalnya aku berpikir geng Five Pretties Boys orang-orangnya sombong. Tapi tidak sama sekali. Aku jadi tau mengapa mereka begitu terkenal. Mereka tampan, ramah dan baik. Tapi cewek-cewek dikampus suka menyalah artikan kebaikan dan keramahan mereka. 

Tak terasa jam 10 malam. Kafe ku harus tutup dan dikafe tinggal aku, senior, dan mereka bertiga. Aku dan seniorku merapikan kafe ku. Tak ketinggalan mereka juga ikut membantuku. Aku sangat berterimakasih. 

Kita berempat pulang bersama sampai di perempatan kita berpisah. Kebetulan arah kosan dan rumah Naeun tinggal satu arah. Jadi, aku dan Naeun kita berpisah dengan Jimin dan Taemin karna arah jalan pulang kita bebeda. 

Sambil berjalan aku memberanikan diri bertanya pada Naeun.
"Naeun-a. Kamu suka Taemin ya?" tanyaku.
"Heheh. Iya. Sebenernya udah lama. Tapi aku malu setiap ketemu dengannya. 

Benar dugaanku. Naeun menyukai Taemin. 

                                        ***
Setibanya aku di kosan handphone ku menyala kulihat ada sebuah pesan masuk.
"Udah sampai?"  1 pesan masuk dari Jimin. 
"Iya. Kamu?"  balasku. 
"ya. Aku juga sudah di rumah. Udah mau tidur?" balas Jimin lagi. 
"belum. Ada yang harus aku lakukan dulu. Habis itu tidur"
"Oh begitu. Yaudah aku tidur duluan ya. Jangan tidur terlalu malam. Tidak baik. Jjalja~ (selamat tidur)"
"Ooo. Jjalja" balasku singkat. 

Selang beberapa detik kemudian Jimin menelponku. 
"Yeoboseyo?" aku mengangkat panggilan teleponnya.
"Oo... Lagi apa?" tanya Jimin.
"Ga lagi ngapa-ngapain" jawabku singkat. 
"Udah makan? " tanya Jimin.
"Udah kan tadi di kafe"
"Ya. Aniii~ maksudku udah makan nasi dengan benar belum tadi itu bukan makan. Itu ngemil cuma makan kue sepotong doang"
"Aaa~ belum. Aku sudah kenyang"
"Lagi diet ya?Makan segitu aja udah kenyang?"
"Engga.."
"hmm. Yaudah deh. Tapi aku lapar. Kalau kamu lapar juga temui aku di minimarket dekat kosanmu. Aku tunggu kamu disitu"
"ha???" aku terkejut.
"Ppalli waaa (cepet dateng)" Kata Jimin. Belum aku membalas teleponnya sudah dimatikan. 
Aku bingung. Namun aku bergegas memakai jaket dan menuju minimarket. 

Untung aku belum berganti pakaian. Hanya tambahan jaket saja untuk menghangatkan tubuhkan dari angin malam. 

Aku berjalan ke supermarket dekat kosanku. Benar saja. Jimin ada di dalam minimarket dengan dua cup ramyeon dan beberapa ssamkimbab (onigiri).
Jimin melihatku dari dalam dan langsung melambaikan tanganku seakan akan menyuruhku untuk cepat mengahampirinya. Aku berlari kecil mdan menghampiri Jimin. 

"Jjaa~ (okee) nih makan" Jimin memberikanku sumpit dan membukakan cup ramyeon milikku. Ia juga membukakan ssamkimbab untuk kemudian dicampur kedalam ramyeon tak lupa sudah ada keju leleh di dalam ramyeon.

Aku hanya melihatnya dengan heran. 
"Kenapa bengong. Cepat makan keburu mienya mengembang" suruh Jimin yang menyadarkanku dari lamunan. 
Ya, karena aku juga lapar aku mulai memakan ramyeonku. 

"Hahhaha Jjalmoknae (kamu makannya lahap juga)"
Mendengar Jimin berkata seperti itu membuatku tersedak.  Jimin buru buru memberikanku minum. 

"Soo-Ah ya. Diantara aku, Taemin, Sungwoon, Jongin dan Moonkyu, siapa yang kamu suka?" tiba tiba tanya Jimin. 
Aku langsung berhenti mengunyah dan menatap Jimin. 
"Coba pilih. Aku mau tau" kata Jimin penasaran sambil mengambil sebutir nasi di pipiku dengan tangannya. 
Aku langsung malu dan menunduk. 
"Mollayo (tidak tahu)" ku gelengkan sedikit kepalaku.
"Ya, jjinjja? Apa diantara kita berlima ga ada yang kamu suka? Aku serius". 
Aku hanya bisa terdiam. Tak bisa menjawab. Pertanyaannya sungguh mendadak. Aku tak siap. Tapi bukannya aku tak suka mereka dan juga aku tak tau aku suka dengan siapa diantara mereka. Karena aku tau diri aku siapa. Tak mungkin aku bisa berhubungan dengan dengan salah satu dari mereka. 

Keheningan selama beberapa menit terjadi. Hingga akhirnya.....
"Soo-Ah ya. Nan Ottae?(kalau aku gimana)" tanya Jimin. 
"Aku suka kamu" kata Jimin sambil menoleh dan menatapku dengan mata yang jernih dan yakin. Aku yang kaget juga menatap Jimin. Kedua mata kita bertemu dan bertukar pandang cukup lama. Sekali lagi....
"Aku suka kamu Hwang Soo-Ah"

[TO BE CONTINUED]

Rabu, 27 Februari 2019

Insomnia

Cast :
Hwang Soo-Ah
Park Jimin
Kim Jongin
Ha Sungwoon
Lee Taemin
Bella Kim
Son Naeun

Tik...tok...tik...tok...
Suara jam dinding terdengar seruangan kamar tidur. Merubah posisi tidur tiap menit. Mulai dari telentang, miring, tengkurap, menutupi seluruh badan dengan selimut, semua sudah ku lakukan berbagai cara agar aku bisa tidur. Namun, semua sia - sia.
Ya, aku menderita insomnia sejak setahun lalu. Memasuki semeseter akhir kuliah, membuatku terlalu banyak memikirkan sesuatu. Aku sudah berdoa, aku sudah minum susu hangat, hingga obat tidur. Namun, semua itu sia-sia.

Hingga waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Terpaksa bangun karna ada kelas jam 8 pagi. Jarak kampus dari rumah memakan satu setengah jam dengan bus sisanya untuk bersiap-siap.
Setengah jam cukup bagiku untuk mandi, memakai baju dan merias diri dengan simple.

Tiba di kampus aku mampir ke coffee shop untuk membeli segelas kopi. Herannya aku tak bisa tidur di malam hari namun, terkadang saat siang hari aku mengantuk dan akhirnya tertidur saat aku menemukam tempat yang nyaman. Semisalnya di kelas, di perpustakaan, di taman, di tribun lapangan kampus.
Hari ini mata kuliah yang cukup membosankan. Seperti biasa aku yang paling pertama tiba di kelas. Sambil menunggu aku memasang headset ke telinga dan mendengarkan musik. Walaupun sudah minum kopi rasa kantukku mulai muncul. Ku letakkan kedua tanganku untuk memangku kepalaku, dan aku terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur, hingga aku merasakan tubuhku sedikit terguncang. Masih setengah tertidur, melepas headsetku dan mendapati tubuh laki-laki dengan sepatu boots kulit, bercelana jeans hitam, t-shirt putih di lapisi jaket jeans hitam dan topi hitam berdiri di sampingku sambil mengatakan "boleh geser sedikit?" dengan nada yang ramah, menundukkan badan sedikit, dengan otomatisnya aku bergeser sedikit ke kanan untuk memberikannya tempat duduk.
Laki-laki itu langsung duduk dan membuka tasnya mengeluarkan buku dan alat tulis. Aku juga mematikan musik, merapikan rambut yang sedikit berantakan dan mengeluarkan buku serta alat tulisku.

"Soo-Ah ssi?" sapa laki-laki itu memanggil namaku.
"Ne? Ah~ ne" jawabku sedikit kaget. Setelah ku menyadari. Laki-laki itu Park Jimin, salah satu anggota geng YDN (예쁜 다섯 남자) atau yang biasa dipanggil Five Pretties Boys ya walaupun itu hanya julukan dari wanita-wanita di kampus karena wajah mereka yang tampan dan terawat. Salah satu geng cowok yang beranggotakan 5 cowok tampan yang terkenal se-kampus.

"Ngantuk banget ya?" kata Jimin.
"Ha? Haha (tertawa kecil) engga" jawabku malu.
"Ikut matkul ini juga?" tanyaku untuk merubah topik menutupi maluku
"Hmm. Iya." jawab Jimin sambil tersenyum dengan tangannya yang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Ah.. Ketemu" mengeluarkan dua permen lolipop dari dalam tasnya.
"Nih, mau yang mana?" tanya Jimin sambil menyodorkan dua buah lolipop dengan rasa stroberi dan lemon. Aku terpaksa mengambil yang rasa stroberi agar tidak canggung.
"Kamsahamnida" sambil mengambil lolipopnya.
"Hmmm.. Ttalgi joahhekunna (suka stroberi toh)"
"Ne?" kataku yang sedikit tak mendengar kata Jimin.
"Aniyeyo" sambil tersenyum.

Jam setengah 12. Mata kuliah pagi telah usai.
"Soo-Ah ssi. Mau makan siang dimana?" tanya Jimin.
"Ne?" aku yang sejenak menghentikan kegiatanku yang sedang memasukan alat tulis kedalam tas sambil menatap Jimin untuk mengulang perkataannya.
"Mau makan siang bareng ga?" jelas Jimin sambil membantuku merapikan buku-buka yang berserakan di meja.
Aku hanya terdiam.
"Sirrheoyo?" tanya Jimin lagi.
"Aniyo" jawabku cepat.
Jimin tertawa kecik mendengar jawabanku yang spontan.
"Kaja~" ajak Jimin.
Entah mengapa aku menuruti ajakan Jimin.
Ku berjalan di belakangnya merasa sangat malu untuk berjalan berdampingan dengannya yang tinggi dan tampan, sedangkan aku hanya cewek kurus dengan tinggi 157cm berambut lurus panjang hitam diikat seperti ekor kuda dengan poni rata depan, paras seadanya. Walaupun begitu, Jimin mencoba untuk mengimbangi langkahku dan mencoba untuk berjalan disampingku. Aku tetap menjaga jarak darinya. Seperti itu saja aku sudah ditatap berbagai tatapan sinis dari cewek-cewek disekitarku yang melihat Jimin mengobrol denganku.
Aaargghh~ sepertinya aku salah meng-iyakan ajakan Jimin untuk makan siang bersama.

Sesampainya di kantin aku langsung duduk di pojokan menghadap tembok dengan Jimin yang mengikutiku sambil membawa makan siangnya dan duduk di berhadapan denganku.

Sebelum makan aku selalu berdoa Jimin mengikutiku berdoa dengan mengepalkan kedua tangannya sambil memejamkan mata..
Kami makan dengan tenang hingga beberapa menit kemudian Jimin menaruh sumpit dan sendoknya kemudian melambaikan tangan sambil berseru "aedella!! (woi guys).. Yeogii (sini)!"
Aku mempercepat makanku. Dan berpikir, sepertinya Jimin memanggil teman se-gengnya.
Ya! Benar saja. Suara Ha Sungwoon mulai terdengar dari kejauhan. Aku menoleh ke belakang arah datangnya suara Sungwon. Ku dapati Ha Sungwoon, Kim Jongin dan Lee Taemin berjalan menuju aki dan Jimin.

"aaaarrgghh.. Kenapa Jimin manggil mereka siih" keluhku dalam hati sambil mempercepat makan. Dan aku tersedak.
"Oo..oo..ooo.. Gwencanha (gapapa)?" Jimin memberikanku minum. Ha Sungwoon tiba dan duduk di sampingku, Kim Jongin dan Lee Taemin duduk di samping Jimin. Ha Sungwoon melihatku yang sedang minum.
"Ooo.. Soo-Ah ya Orenmanida (sudah lama tidak bertemu)"
"Ya, neon Soo-Ah ssi ara? (lu kenal Soo-Ah)" tanya Jongin.
"Kereom alljji (ya kenal lah). Kan pernah sekelas beberapa matkul tahun lalu. Satu kelompok pernah malahan. Ya, kan?" jawab Sungwoon.
Aku hanya mengangguk.
Ya, aku dan Sungwoon pernah bertemu di beberapa matkul dan pernah satu kelompok dengannya. Sungwoon lah yang memintaku untuk satu kelompok dengannya. Jadi dari situ lah aku cukup mengenal Ha Sungwoon. Sedangkan yang lainnya tidak. Terlebih Kim Moonkyu entah mengapa dia saat ini sedang cuti jadi jarang terlihat di kampus.

"Ngomong-ngomong, kok tumben berdua?" tanya Taemin ke Jimin.
"Aaa.. Tadi satu matkul di jam pagi. Terus sekalian aja deh makan siang bareng." jawab Jimin.
"Hmm isanghada (aneh). Biasanya Soo-Ah apa apa sendiri. Kenapa mau makan bareng Jimin?" tanua Sungwoon sambil menoleh ke arahku dengan mulutnya yang masih sibuk mengunyah.
"Ya... Makan yang bener kunyah dulu itu yang bener" kata Jimin.
"Soo-Ah ya. Aku dengar kamu pintar. Kamu mahasiswa beasiswa terus dari awal masuk. Hmm. Bisa kali ajarin kita" seru Jongin.
"Enak aja. Soo-Ah ya jangan mau ngajarin mereka mah. Ajarin aku aja. Kan kita udah temenan dari lama" kata Sungwoon.
"Baru temenan setahun aja juga lu" keluh Taemin.
Jimin hanya tertawa. Dan aku terus makan dan menunduk dengan malu.


Pukul 4 sore. Kuliah hari ini selesai. Aku harus segera pergi ke kafe tempatku kerja parttime.


"Selamat menikmati. Datang lagi kemari ya" sapaku ke pelanggan.
Saat aku sedang memeriksa komputer kasir tiba-tiba aku mendengar suara yang tak asing.
"Sel..."
"Oo.. Kerja disini?" Tanya Jimin kaget.
Aku juga kaget.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu" S.O.P yang utama bagiku.
"Wuuu.  Yoksi! Professional banget. Satu caffe latte dan satu strawberry smoothies" pesan Jimin.
"Ne~ totalnya 7500won" aku mengambil kartu kredit milik Jimin untuk membayar pesannya.
"Harap tunggu 8 menit" aku memberikan buzzer ke Jimin dan kemudian Jimin berjalan ke meja dan duduk menunggu menghadap ke arahku.

Minuman Jimin sudah siap. Aku yang membuatkannya.
"Caffe latte, Strawberry smoothies sudah siap. Sel..." belum selesai aku mengikuti S.O.P Jimin yang menaruh buzzer dan segera mengambil caffe lattenya dan berkata "Itu buat kamu. Soo-Ah ssi hwaiting (semangat)" dan langsung menuju pintu keluar. Aku terheran-heran dan menatap Strawberry smoothies yang di pesan Jimin.

                                       ***

Aaarrghhh hari ini melelahkan sekali. Karna hari pertama semester baru dimulai kafe menjadi ramai pengunjung tadi sore. Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur sambil menghapa ke atas langit-langit.

Jam 12.00 malam. Walaupun hari ini lelah tapi tetap saja aku tak bisa tidur :( terlebih sikap Jimin yang mendadak seperti itu di hari pertama masuk kuliah lagi. Banyak pertanyaan yang muncul di otakku tentang Jimin hari itu. Semakin memikirkannya tam terasa aku tertidur saat jam 1 malam.

                                      ***

Alarm hapenya berbunyi yang menunjukkan jam 10 pagi. Hari ini kuliah ku hanya 1 matkul di siang hari dan sorenya aku pergi ke kerja (kafe).
Hari ini aku tidak bertemu Jimin di kampus. Namun saat aku kerja Jimin datang lagi ke kafeku.
"Soo-Ah ssi. Anyeong" sapa Jimin dengan setelan baju hangat hitam menutupinya hingga lehernya, topi hitam dan jeans biru dengan tas gembloknya.
"A.. Anyeong" aku menyapa kembali.
"Jaljjaso? (tidur nyenyak?)" tanya Jimin. Kebetulan saat itu kafe tidak terlalu ramai.
"Eung (iya)" aku menjawab.
"Mau pesan apa?" tanyaku yang hampir lupa pekerjaanku.
"Hmmm.. Rekomenadisiin kue yang enak disini apa ?" tanya Jimin sambil melihat ke rak kue.
"Hmmm.. Red velvet cake. Yang lagi terkenal" saran ku.
"Ok. Itu satu terus cokelat cake satu terus caffe latte satu dan strawberry smoothies satu"
Hmm.. Strawberry Smoothies lagi. Dalam hati ku menerka - nerka.
"9500won totalnya." kataku.
Pesanan Jimin sudah jadi dan lengkap. Jimin menghampiri meja kasir dan mengangkat nampan yang berisi pesannya. Namun dia tidak lagi meninggalkan strawberry smoothiesnya. Semua ia bawa menuju meja dekat jendela tempatnya duduk saat menunggu pesanannya siap tadi. Tak berselang lama seorang wanita cantik, tinggi semampai, rambut cokelat berkilau dan bergelombang natural dengan dress terusan se lutut memasuki dan menghampiri tempat Jimin berada. Jimin pun berdiri dan menyambut wanita itu dengan pelukan. Mereka mengobrol akrab berdua sambil menikmati kue yang dipesan Jimin tadi.
Hmm. Mungkin itu pacarnya Jimin.
Satu jam berlalu. Jimin dan wanita cantik itu beranjak dari tempat duduk mereka dan pergi keluar kafe. Jimin asyik bersenda gurau dengan wanita itu sehingga ia menghiraukanku yang melihat ia pergi.

                                      ***

[TO BE CONTINUED]

Rabu, 28 September 2016

BUTLER pt.2



Cast :
Nina (author)
Kim Taehyung (V BTS)
Lee Hongbin (Vixx)
Hyung Won (Monsta X)
Baekhyun (EXO)

Note : Maafkan jika ada yang ga nyambung he..he..he.. Harap maklum I'm very very newbie. Kritik&saran silakan komen di kolom komen tapi dengan bahasa yang baik dan benar ya. Jangan sarkasme! :)
yang tulisan italic berarti ngomong dalem hati. 

Part II
“Nina-ya hari ini hari Minggu, kau ada acara kah ?” tanya Baekhyun.
“Ti..tidak ada. Ke..kenapa?” jawab Nina masih agak takut.
“Ah! Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain?” sahut Taehyung dengan semangat.
“Ya! Ingatlah kau itu idol. Mustahil untuk kita pergi ke tempat yang ramai seperti itu. Bukannya kita bersenang-senang malah jadi fansign dadakan disana.” Tukas Hyungwon.
“Aah naneun kagosipta. Aku sudah lama tidak ke taman bermain.” Rengek Taehyung dengan manja.
“Lalu kau Nina ingin kemana hari ini?” tanya Hongbin sambil membereskan piring kotor bekas sarapan yang ada di meja makan.
“Hmm.. Meola. Mungkin aku ingin tidur seharian hari ini. Dan membuktikan kalau ini hanyalah mimpi” dengan bergumam sedikit di kata terakhir.
“Eii.. Chemiopsso. Membosankan sekali hidupmu. Seharusnya kau manfaatkan hari liburmu untuk refreshing otakmu itu yang sudah lelah dengan materi kuliah. Kalau kau begini terus kau akan cepat menua. Hahah” goda Taehyung yang diikutin tawa Baekhyun dan dengan senyuman Hongbin. Hyungwon pun ikut tertawa sepersekian detik.
***

Sabtu, 17 September 2016

BUTLER (Part 1)

Cast :
Nina (author)
Kim Taehyung (V BTS)
Lee Hongbin (Vixx)
Hyung Won (Monsta X)
Baekhyun (EXO)

Note : Maafkan jika ada yang ga nyambung he..he..he.. Harap maklum I'm very very newbie. Kritik&saran silakan komen di kolom komen tapi dengan bahasa yang baik dan benar ya. Jangan sarkasme! :)
yang tulisan italic berarti ngomong dalem hati.

Triiiiiiiinggggg!!!! Triiiiiinnggggg!!! Triiiiiiiiinggg!!! (jam alarm bunyi)

"Aaarrgghh!! berisik!!" (sambil meraih jam beker dan mematikan alarm dengan mata masih tertutup.)
"Ini kan hari Minggu jadi bisa tidur lebih lama atau bahkan seharian toh, aku juga ga ada rencana menyenangkan untuk hari ini." (kembali menarik selimut dan mencoba untuk tidur kembali).
Krrr...Krr.. (bunyi perut menandakan lapar)
"Aaarrgghh.. kenapa lapar pagi-pagi padahal semalem kan makan banyak!" sambil mengelus perutnya yang lapar Nina terpaksa bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke dapur. Saat membuka pintu kamar, Nina mendengar suara percakapan beberapa orang dari arah dapur rumah sewaannya yang cukup luas untuk ditinggali seorang diri. 
"Suara siapa itu?? Perasaan semalem pintu rumah udah dikunci. Ah! jangan jangan maling!" Nina mengambil tongkat kasti yang bersandar di dinding kamarnya. Dengan waspada dan mengendap-endap ia berjalan menuju dapur rumahnya sambil memegang erat tongkat kasti. 
Jeduuk!! Tanpa Nina sadari ia menabrak seseorang didepannya dan..
"Aaaaaaaa!!" Nina berteriak dan mengayunkan sembarangan tongkat kastinya dengan mata tertutup. Namun, tangannya ditahan oleh pria yang ditabraknya. Saat Nina membuka mata.......
Seorang pria dengan wajah tirus nan tampan, bibirnya yang agak tebal dan sedikit membulat, matanya yang bulat menatap lurus ke mata Nina. Saking shocknya Nina pun tanpa sadar jatuh pingsan, dan pria itu menahan badan Nina yang hampir jatuh. 
               ***